Bunaken View-Grasberg

Bunaken View-Grasberg

Wednesday, September 9, 2015

Sekilas mengenai sejarah URAL 28

Herman Setiawan
September 8 at 11:13am
Sekilas mengenai sejarah URAL 28

 URAL adalah sebuah organisasi pencinta alam yang bernaung di bawah SMA Negeri 28 yang merupakan kepanjangan dari Udara, Rimba, Laut. URAL lahir dari keinginan para segelintir anak SMA untuk berkiprah di alam bebas di bawah naungan sebuah organisasi formal, dengan kronologi sejarah berdirinya sebagai berikut  :

Pada tahun 1982; bermula dari kami 3 orang yaitu Gianto Yusupandi (lulusan 1983), Harun Al Rasyid “Baham” (lulusan 1984) dan Herman Setiawan (lulusan 1984), saat itu aktif mengikuti Ekskul kepanduan.     Setelah mengikuti kegiatan kepanduan, kami sempat merasakan suatu kejenuhan karena kegiatan kepanduan bukanlah hal yang luar biasa apalagi kita sudah mengenal kegiatan tersebut sejak di bangku sekolah dasar.
Saat itu juga Sdr. Gianto Yusupadi mempunyai ide untuk membentuk suatu kegiatan Ekskul baru;  dan kami bertiga sepakat bentuknya adalah Ekskul Pecinta Alam/Pendaki Gunung. Waktupun berjalan kami merasa perlu untuk mencari ilmu pengetahuan tentang kepecinta-alaman dan teknik pendakian gunung.    

Pada bulan Juni 1982 di majalah dinding sekolah terpampang selebaran tentang tawaran untuk mengikuti kegiatan pendidikan dasar pecinta alam, yang dilaksanakan oleh salah satu perhimpunan pendaki gunung di Jakarta yang sudah berkiprah sejak 1975.  Kamipun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut; kami bertiga mengikuti pelatihan dasar tersebut yang dikemudian hari ternyata ilmu dan ketrampilan yang kami dapatkan sungguh sangat berguna; karena dalam kegiatan pecinta alam/pendaki gunung  akan menghadapi sebuah pengalaman yang menantang dengan keindahan alam yang dilihatnya dari dekat, tetapi juga sebuah resiko yang akan dihadapi cukup tinggi.
Selanjutnya kami bertiga memberanikan diri untuk menghadap kepala sekolah saat itu Ibu Rosni Rachman didampingi seorang guru Fisika/Matematika yang bersedia menjadi Guru Pembina; yaitu Bapak (Alm) Suwartono B.Sc; dan Bu Rosni memberikan persetujuannya.
Tidak lama kemudian kami mengajak teman-teman yang lain (mayoritas lulusan 1984) untuk bergabung membentuk organisasi Ekskul Pecinta Alam/Pendaki Gunung dan kami bersepakat nama Eskul adalah URAL kepanjangan dari Udara Rimba Laut; kami juga sepakat lambing Ural adalah “Beruang Kutub/Polar Bear” yang mempunyai makna yaitu :
Kekuatan;
Ketabahan;
Kecerdasan dan
Kemandirian.
Pada bulan September 1982 kami melaksanakan pelatihan dasar di sekitar Gunung Geger Bentang (desa Rarahan-Cibodas) dan kamipun membuat Ikrar bersama pada tanggal 18 September 1982 yang juga melahirkan angkatan pertama dengan nama angkatan “Kabut Pangrango”; karena memang lokasi pelatihan dasar berada di kaki Gn.Pangrango.    Selanjutnya tanggal 18 September kami sepakati sebagai hari jadi URAL.   
Angkatan pertama “Kabut Pangrango” berjumlah 22 orang yaitu:
Gianto Yusupadi                        (28/IPS/1983)
Lilik Irianto                                (28/IPS/1983)
Herman Setiawan                      (28/IPS/1984)
Harun Al Rasyid                        (28/IPS/1984)
Cum Arya Sumarya “Acum”       (28/IPS/1984)
Dwi Budiman “Jarot”                  (28/IPS/1984)
Fajar Herdiadita                        (28/IPS/1984)
Eko Budi Arianto                       (28/IPS/1984)
Sudrajat “Reseh”                       (28/IPS/1984)
Saiful Panji                               (28/IPA/1984)
Nugraha Arifin Mahfudi              (28/IPS/1984)
M. Syarief                                 (28/IPS/1984)
Ramelan                                   (28/IPS/1984)
Fevri Rumampuk                       (28/IPS/1984)
Bambang Susapto                     (28/IPA/1984)
(Alm) Sabar Busono                  (28/IPA/1984)
Zulaicha “Yuli”                           (28/IPS/1984)
Tri Wati “Tati”                           (28/IPS/1984)
Rina Kurnia                               (28/IPA/1984)
Munawaroh                               (28/IPA/1984)
Wismo Dwikora                         (28/IPS/1984)
Isimiati                                     (28/IPS/1984)

Bulan Desember 1982 kami melaksakan pendidikan dasar yang bertama; yang melahirkan angkatan kedua dengan nama angkatan “Bukit Senja”.  Tujuan dari pendikikan dasar yang kami laksanakan adalah :

1.     Pembentukan mental dan karakter yang kokoh;

2.     Pembentukan sikap rendah hati dan peduli lingkungan;

3.     Pembentukan kapasitas ilmu dalam berkegiatan di alam

4.     Pembentukan kesadaran akan rasa kesamaan, kebersamaan, dan kekeluargaan; serta

5.     Membentuk pribadi yang bijak dan beradab

Demikian sekilas kronologi berdirinya URAL.
Di usianyanya yang menginjak ke-33 tahun pada tahun ini, bisa dikatakan URAL adalah organisasi ekstrakurikuler tertua di SMA 28. Di tengah lesu dan mandeknya kegiatan organisasi pencinta alam di sekolah lain, URAL tetap eksis.

Dalam perjalanannya, URAL telah mencetak sejumlah prestasi, diantaranya Juara 2 Panjat Tebing Putri yang diadakan oleh KAPPA Universitas Indonesia pada tahun 1989, mendapatkan Wing Tri Brata Polri pada tahun 1988, dan juga lomba gerak jalan. Sebagai pencinta alam, URAL juga ikut berpartisipasi dalam bersih Ciliwung ketika Bapak Emil Salim masih menjabat sebagai Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Tak hanya itu, URAL juga lah yang pertama kali membidani kegiatan Lomba Lintas Desa yang pada dekade 80 dan 90an menjadi acara tahunan di SMA 28.

Sebagaimana organisasi pencinta alam pada umumnya, kegiatan URaL 28 berorientasikan kepada kehidupan di alam bebas. Untuk itulah pembekalan materi, baik teori maupun praktek, untuk berkecimpung di alam harus diberikan pada setiap anggota sebelum terjun langsung. Tak hanya itu, sejumlah rentetan pendidikan harus dilalui setiap calon anggota sebelum berhak dilantik menjadi anggota. Pendidikan itu diantaranya adalah Latihan Dasar Militer atau Latsarmil, ajang dimana setiap calon anggota dites ketangguhannya dalam menghadapi berbagai rintangan.

Setelah Latsarmil, setiap calon anggota harus melalui Pendidikan Dasar atau Diksar yang biasanya memakan waktu beberapa hari. Di sini lah, kemampuan teori dan praktek yang telah diberikan selama masa pendidikan diuji sebelum akhirnya calon anggota berhak mendapatkan slayer URAL.

Setelah pelantikan, setiap anggota berhak memilih salah satu grup yang ada.
Untuk memfokuskan keahlian masing-masing anggota, URAL mengelompokkannya ke dalam tiga grup, yaitu:

• Grup 1  yang berorientasi pada kegiatan pendakian gunung, mendaki tebing dan jelajah gua.

• Grup 2  yang berorientasi pada kegiatan bahari, seperti dayung, layar dan juga arung jeram.

• Grup 3  yang berorientasi pada kegiatan penelitian dan studi observasi.

Saturday, September 5, 2015

Quotes dari Sang Penegak Hukum

"Alam yang akan menyaksikan. 
Waktu yang akan membuktikan..."

Anang Iskandar (Kabareskrim Polri)

Wednesday, August 26, 2015

Dampak Perang Terhadap Lingkungan ditinjau dari Hukum Internasional : Latar Belakang Masalah



                Bumi merupakan komunitas dimana mahluk hidup berdiam dan saling berinteraksi satu sama lainnya. Dan merupakan planet (sampai saat ini) yang memiliki penunjang kehidupan. Hampir 71%[1]  bagian dari bumi adalah lautan dan 570 juta hektar (5,7 juta km2) luas daratan di dunia, memiliki unsur paling vital bagi kehidupan, didiami sekitar 5-50 juta jenis species flora dan fauna, dan tempat tinggal dari berbagai suku bangsa manusia yang ada di bumi ini.
                Sumber-sumber lingkungan tersebut memberikan basis kehidupan di bumi ini, termasuk bagi umat manusia. Nilai-nilai fundamen sosial, etika, kebudayaan dan ekonomi yang dikembangkan berdasarkan keanekaragaman hayati telah menjadi bagian dari agama, seni dan literatur sejak awal sejarah manusia. Masalah mulai muncul ketika disadari sejak beberapa dekade lalu, telah terjadi kerusakan sumber-sumber kehidupan itu yang umumnya dilakukan oleh manusia. Ketika lingkungan hidup menjadi modal dasar sebuah pembangunan bagi suatu bangsa, seiring dengan itu pembangunan membawa laju kerusakan pula bagi sumber-sumber kehidupan. Laju kerusakan hutan mencapai 1,4 juta hektar per tahunnya[2], baik oleh pembalakan hutan untuk kepentingan industri kayu, perluasan perkebunan, pembangunan pemukiman penduduk, maupun kebakaran hutan. Masalah di atas belum termasuk masalah yang dihadapi di sektor perairan; sungai dan laut. Pencemaran akibat proses dari akibat aktivitas industri dan penangkapan ikan yang berlebihan (over fishing), menjadi salah satu penyebab rusaknya habitat air.
                Dengan memperhatikan hal tersebut di atas, telah banyak faktor-faktor penyebab rusaknya lingkungan hidup di bumi ini, apalagi kemungkinan dapat ditambah jika ‘perang’ dimasukkan kedalam penyebab rusaknya sumber-sumber kehidupan di bumi ini. Dapat kita bayangkan bersama, dengan semakin pesatnya kemajuan tehnologi di bidang persenjataan perang (dengan adanya senjata nuklir, senjata kimia dan juga biologis) yang tidak hanya akan menimbulkan kerusakan dan kematian di areal terjadinya perang, akan tetapi juga dampaknya akan dirasakan bagi komunitas disekitar tempat terjadinya perang dan juga bagi seluruh sumber-sumber kehidupan di bumi, baik dirasakan dampaknya pada masa sekarang dan masih akan dirasakan juga dampaknya di masa yang akan datang. Dan ‘perang’ masih dijadikan jalan untuk menyelesaian perselisihan diantara pihak-pihak negara yang berselisih.

Sejarah manusia hampir tidak pernah bebas daripada peperangan. Mochtar kusumaatmadja mengatakan[3], bahwa adalah suatu kenyataan yang menyedihkan bahwa selama 3400 tahun sejarah yang tertulis, umat manusia hanya mengenal 250 tahun perdamaian. Melihat dari fakta yang ada tersebut sangat menyedihkan sekali jika mengetahui betapa manusia tidak dapat dipisahkan dari masa-masa peperangan.
Oppenheim melukiskan perang itu adalah sebagai :[4] 
“War is a contention between two or more States through their Armed Forces, for the purpose of over powering each other and imposing such condition of peace as the Victor pleases”.

Dari definisi tesebut, dapat dikatakan bahwa perang merupakan sebuah perselisihan/konflik yang tujuannya sebagai bentuk saling unjuk kekuatan suatu pihak (negara) kepada pihak lain dengan menggunakan kekuatan persenjataannya. Sehingga untuk menunjukkan kekuatannya digunakan sedemikian cara untuk mencapainya, salahsatunya dengan menggunakan kemajuan teknologi dalam bidang persenjataan perang tanpa memperhatikan lagi dampak-dampak yang ditimbulkannya, baik dari segi kemanusiaan maupun lingkungan.
Sejak pecahnya Perang Dunia I, banyak senjata baru ditemukan, beberapa diantaranya mempunyai daya penghancur yang luar biasa. Kemudian selama Perang Dunia II, proses ini meningkat dengan pembuatan bom, seperti V1, roket jarak jauh V2, sampai pembuatan bom atom, dimana 2 buah yang berhasil diledakkan dalam bulan Agustus 1945 di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang[5]. Kedua kota tersebut dihancurkan dan mengakibatkan kecemasan dan kepanikan yang sampai kini belum lenyap.
Suatu persetujuan umum mengenai penggunaan senjata-senjata khusus yang menimbulkan kontroversi sangat dibutuhkan, dan apabila tidak ada persetujuan demikian, maka makin bervariasilah senjata-senjata perang yang dapat digunakan dalam perang sejalan dengan kemajuan teknologi yang ada, yang memiliki dampak makin tidak dapat kita bayangkan lagi akibatnya. Sebagai contoh jenis-jenis senjata yang telah dikembangkan yang memiliki dampak sangat luas antara lain :
a.       Bom Napalm, adalah bom bakar yang mengandung jellied gasoline;
b.       Bom Atom, yang dapat kita lihat akibatnya terhadap kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang;
c.        Senjata Nuklir, Biologi dan Kimia ;
d.       Bom-bom pintar atau juga bom-bom yang dapat dikendalikan dari jarak jauh melalui satelit, merupakan jenis bom terbaru hasil dari semakin berkembangnya tehnologi, dan masih banyak lagi jenis persenjataan perang lainnya.

Oleh karena itu, perang (persenjataan perang) merupakan suatu bentuk pemusnahan lingkungan yang sangat potensial, dengan melihat hasil yang ditimbulkannya dapat kita yakini bahwa perang memang penghancur lingkungan yang tidak dapat ditandingi dan dipungkiri. Apalagi penyelesaian perselisihan/sengketa dalam bentuk perang masih belum dapat dihapuskan di muka bumi ini.
Di lain pihak, dengan semakin berkembangnya bidang hukum lingkungan internasional dan juga semakin tumbuhnya pemahaman mengenai perlindungan lingkungan secara global sehingga muncullah suatu konsep baru mengenai pengaturan internasional mengenai pemanfaatan dan perlindungan lingkungan antara lain, bahwa lingkungan hidup sebagai warisan bersama umat manusia (Common Heritage of Mankind).
 Atas dasar itulah perlu diperhatikan bahwa jika memang perang benar-benar terjadi di suatu wilayah di dunia, yang menjadi pertanyaan adalah siapakah yang bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan pasca perang? Pihak-pihak mana sajakah  yang wajib merehabilitasi atas kerusakan dan pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh perang (persenjataan perang)? Apakah Badan Internasional dapat diminta keikutsertaannya dalam merehabilitasi dampak yang disebabkan perang (persenjataan perang) terhadap lingkungan dan juga Apakah penerapan sanksi atas pihak-pihak yang melanggar peraturan-peraturan internasional tersebut dapat diberlakukan?
 Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penulisan mengenai dampak yang ditimbulkan oleh perang (persenjataan perang), pengaturannya menurut Hukum Internasional, sanksi dan tindakan yang harus dilakukan dalam mencegah dan merehabilitasi kerusakan yang ditimbulkan perang terhadap lingkungan.

*Penulisan Skripsi S1 Fakultas Hukum Unika Atma Jaya Jakarta - Tahun 2003

[1] Hasjim djalal, Perjuangan Indonesia Di Bidang Hukum Laut, Bandung, Bina Cipta, 1978
[2] Konvensi Keanekaragaman Hayati: Seri Konvensi Internasional Lingkungan, WALHI-FH Unika Atma Jaya: 1999, hlm. 59.
[3] Mochtar Kusumaatmadja, Konvensi Palang Merah tahun 1949, Binacipta, Bandung, 1968,  hlm. 7.
[4] Oppenheim-Lauterpacht, International Law, vol. II, Longmans Green & Co, 8th. Ed. London, 1960, hlm.202.
[5] Syahmin A.k., Hukum Internasional Humaniter I, Armico, Bandung, 1985, hlm.23.

“Pengalaman adalah guru terbaik…”



Semua sisi keunggulan diri pribadi, seperti keterampilan individual yang tinggi,   motivasi yang kuat untuk berprestasi, semangat juang yang pantang mundur, harga diri, rasa percaya diri, rasa memiliki organisasi, dan rasa bangga sebagai warga organisasi seringkali hanya dapat bangkit dan terpupuk setelah kita mengalami sendiri suka-duka bekerja sama dalam suatu kelompok yang tangguh.

Bergaul dan belajar bersama akan menumbuhkan sinergi (kesatuan dan keselarasan energi) dalam kelompok, yaitu jika apa yang dapat kita selesaikan sebagai kelompok jauh melebihi hasil penjumlahan dari apa yang dapat kita  selesaikan masing-masing secara    pribadi. Setelah mencapai sinergi, kelompok akan menjadi mampu untuk menggalang     pengetahuan, kecakapan dan kecerdasan secara kolektif.

Berada dalam sebuah kelompok dengan sinergi tinggi selalu menggairahkan. Kita merasa hebat, merasa besar, kita berani, merasa penuh daya, merasa sangat berarti, dan kita sungguh kreatif. Suatu keadaan yang kita sebut dengan istilah “sense of greatness”. Sekali saja kita pernah merasakannya, pengalaman itu akan selalu kita kenang sebagai saat-saat yang paling indah dalam hidup ini, dan akan selalu kita rindukan untuk dapat dirasakan kembali.


Karena “Pengalaman adalah guru terbaik…”.

@B'ReAl Adventure Team

Oktober 1999 - Cerita Anak Air



Aku adalah anak air…
Yang dilahirkan oleh tanah air Ibuku
Dan Bapakku hijau hutan nan rindang

Aku kecil…
Aku masih ingat saat dimanjakan oleh segarnya perhatian Ibuku
Dan sejuknya pelukan dari Bapakku
Bermain berkejaran bersama teman air kecilku
Didongengkan cerita oleh kabut lembut nenekku…
Aku senang aku bahagia
Jika aku ingat kembali
Saat aku kecil di Gunung megah alam rumahku…

Beranjak dewasa…
Aku keluar dari tempat alam tinggalku
Menyusur sendiri mengikuti alur untukku
Menemui segala alam baru asaku
Desa kecil sampai kota besar ku aliri
Dimana banyak hal baru ada bersamanya
Desa kecil kutemui senyum ramah menyapa
Kota besar dengan angkuh keruh
Hidup sekelilingnya…

Semua adalah tentang yang kutemui
Dalam paruh waktu perjalananku
Bukan sejuk segar masa laluku
Hanya berat pekat nyata dalam alurku…
Hingga pada akhirnya
Aku menuju satu batas dalam perjalananku
Batas dimana lautan luas menerimaku
Lautan tempat semua berkumpul
Seperti aku atau mungkin lebih
Hingga surya 12 menyerapku
Memproses hingga ke awan 7
Sampai aku kembali meregenerasi
Ke tempat sejuk segar alamku
Diciptakan….

Senin Hijau, 13 September 1999 - Refleksi Hidup

Hidup…suatu kedinamisan
Dimana hidup bagaikan rintangan beriringan
Yang membentuk sebuah lingkaran
Hidup adalah nikmat semu yang terindah
Yang kita alami
Dimana ada kedukaan…kesukaan
Rasa tinggi… rasa rendah…dan sebagainya
Dimana hidup memberikan kita tinggi
Tetapi juga memperingatkan akan rendah
Maka…
Sadarlah diriku..kamu sekalian handai taulan
Bahwa hidup wajib direfleksikan
Agar kita selalu ingat dimana posisi kita
Yang rendah bukan berarti kalah
Yang tinggi?
Maka…
Sadarlah!!
Satukan dengan sekeliling
Satukan dengan alam
Satukan dengan hidup
Karena Tuhan memberi hidup bukan untuk mati
Melainkan memberi hidup untuk hidup
Agar mengerti akan posisi kita
Tuhan selalu di atas kita….